Teks rekon dan strukturnya

Struktur teks Rekon

Teks
Struktur teks

Aku dan Solo

Dimensi waktu selalu berputar ke depan tetapi kenangan selalu membekas di hati manusia tiap kali imajinasinya menyelusuri masa silam. Dua minggu yang lalu, aku bersama ketiga temanku Ray, Mifta dan Nisa berjalan-jalan mengitari kota Solo. Kami berangkat hari jumat pukul 16.00 WIB, usai pulang kuliah. Kami menaiki angkutan umum warna hijau menuju pasar ungaran. Aku duduk di dekat pos satpam pasar ungaran, mataku memandang kendaraan-kendaraan yang menyapa di depanku. Bus jurusan Solo memang kerap kali lewat dan berhenti. Namun hampir semuanya penuh dan tak ada tempat duduk yang kosong. Kami masih setia menunggu bus yang datang menjemput. Sepuluh menit kemudian
bus bertuliskan Sinar Abadi berhenti di depan kami, dari kaca jendela bus ini tidak seramai seperti bus yang sudah lewat. Kami memasuki bus. Aku duduk di paling depan dengan penumpang yang lain. Mataku menatap jalanan memandang kendaraan yang lewat berlawanan. Sesekali aku menengok kiri kanan menatap pemandangan sekitar. Setengah jam kemudian aku tertidur.

Aku terbangun, ternyata bus yang kami tumpangi sudah sampai di terminal Solo. Kami mendapat sambutan hangat dari Ayah dan Ibu Ray yang sudah setia menunggu kami di terminal. Kami berjalan menuju parkiran dan memasuki mobil Ray. Lampu kelap-kelip mengelilingi perjalanan menuju rumah Rayy. Aku sempat tertegun melihat rumah Ray,  ukiran-ukiran cantik menghias dinding rumahnya. Kami dihidangkan sate dan beberapa makanan yang lain. Pukul 22.00 Wib kami berjalan menuju Keraton Solo. Malam ini adalah malam satu muharram atau malam satu suro dimana setiap malam satu suro di kota Solo terdapat ritual kirab kebo bule Kyai Slamet. Dari keratonan Solo hingga Jalan Slamet Riyadi dibanjiri ribuan manusia yang akan menonton prosesi kirab Kebo Bule Kyai Slamet. Aku bersama teman-temanku yang lain menyerobot untuk mencari posisi di paling depan. Tepat pukul 24.00 WIB Kebo Kyai Slamet beserta pusaka-pusaka dan abdi dalem mengiringi kirab Kebo Kyai Slamet. Sekilas, kerbaunya memang terlihat biasa namun saat malam satu suro kerbau ini memiliki mistis. Menurut cerita para sesepuh keraton Kerbau ini pernah mencari makan hingga sampai Cilacap dan saat akan menjelang malam satu suro kerbau ini sudah kembali lagi di dalam istana. Sebelum kerbaunya dikirab, kerbau ini telah dilakukan dengan ritual-ritual khusus. Seluruh penonton terdiam ketika Kerbau Bule Kyai Slamet melewati kerumunan penonton. Aku bersama teman-temanku mencoba mendokumentasikan gambar. Kerbau bule itu diikuti oleh ratusan para abdi dalem. Hamburan manusia bertaburan ketika Kirab Kebo selesai lalu aku, Ray, Mifta dan Nisa duduk di seberang jalan sambil menikmati teh anget dan jagung bakar.

Esok harinya kami menuju Pasar Klewer dan pusat oleh-oleh di Solo. Kami memasuki pusat handycraft di kota Solo. Terik matahari memancarkan sinar yang terang. Keringatku bercucuran. Kami duduk di depan Masjid Agung Solo sambil menyeruput  segelas es campur. Pemandanganku terfokus apada seorang bapak yang duduk diatas kursi roda dengan tangan memegang kaleng. Rasa iba dan haru membungkus tubuhku tiap kali aku menengok pada bapak-bapak itu. Setengah jam kami beristirahat dan dijemput oleh ayah Aryo menggunakan mobil. Malamnya, kami pergi menuju taman Bale Kembang untuk menikmati lakon Cerita Ramayana. Ini sungguh pengalaman luar biasa, batinku dalam hati. Aku dapat merasakan betapa luar biasanya kebudayaan Indonesianya. Aku tertegun melihat setiap adegan yang ditampilkan para pemain. Usai pertunjukan kami berfoto dengan para lakon cerita sendratari Ramayana. Usai berfoto kami menuju parkiran dan memasuki mobil. Gedung-gedung disekeliling terlihat mewah dan megah, bintang-bintang bersinar terang berhamburan dilangit-langit malam. Kami berhenti di angkringan dekat pinggir jalan menikmati lalu lalang kendaraan.
                                                                   

Sapaan angin menggesek dedaunan yang berjatuhan. Udara menusuk rongga bola dada.  Aku bangun dari tempat tidurku menyapa mentari yang lebih mendahului bangun. Aku membereskan ranselku lalu bersiap-bersiap mandi. Setengah jam lamanya aku sudah rapi dengan tas ransel kecilku berada di belakang punggungku. Roda becak besentuhan dengan aspal. kami menikmati setiap alunan putaran rodak becak. Ini hari terakhirku berada di Solo. Aku begitu puas menjadi pelancong dadakan di kota Solo, kota yang penuh budaya dan kenangan.





Orientasi























Komplikasi




































Komplikasi

























Resolusi





Komentar

  1. tampilan blognya bisa diatur lagi, agar terlihat lebih komunikatif :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Firasat - Dewi Lestari

Peluk - Dewi Lestari

Analisis Sastra Anak