Ekspresi Tulis Sastra

Madu dan Racun
Oleh Ulfatun Apriliyanti

Gincu merah melapisi bibirnya. Rambutnya yang panjang dan bergelombang di sisir rapi dibiarkan terurai, pipinya merona diwarnai dengan sapuan blush on merah muda. Matanya dipertajam dengan eyeliner. Rok bermotif tribal diatas lutut dan baju dengan kain sifon membungkus tubuhnya. Ia membutuhkan waktu setengah jam untuk memoles tubuhnya sebelum keluar rumah. Ia harus terlihat cantik dan molek. Lampu kelap-kelap selalu menghiasi depan rumahnya ketika malam hari. Setiap malam depan rumahnya selalu disulap menjadi arena seperti pasar malam bahkan lebih dan sangat lebih. Penjual yang berjejeran, pria yang menggerombol bermain ceki, perempuan-perempuan yang memakai rok maupun celana mini dan baju ketat sudah menjadi tontonan biasa bagi Baim.

“Bu, minta duit”
“Ya ellah elu im, kan baru gue kasih tadi sore masa iya mau minta lagi?”
“Baim laper bu,”
“nih goceng sonoh buat beli makan”
Baim beranjak pergi meninggalkan ibunya yang sedang bersama seorang pria. Ia tidak pernah tahu siapa ayahnya, yang ia tahu hanya ibunya yang sudah merawatnya dari kecil. Ia juga tidak tahu mengapa ia harus tinggal di lingkungan yang seperti itu. Ia juga tidak tahu dimana ia dilahirkan.
“Bang bakso bang”
“iya im, berapa?”
“biasa bang goceng aja”
“oke im tunggu dulu ya” sambil menyodorkan bangku pada baim.
***
Rumah kontrakan seadanya itu berlantai dua. Lantai atas dengan kasur yang langsung menempel pada lantai tempat dimana Baim dan Ibunya tidur. Disebelahnya terdapat almari kecil, isinya baju-baju dan perlengkapan rias ibunya. Lantai bawah ada beberapa kamar yang di isi oleh beberapa perempuan yang katanya teman ibunya. Kamar itu tidak dipenuhi semua, ada beberap yang kosong. Baim juga tidak tahu untuk apa kamar-kamar kosong tersebut.
“Bu, Baim main di kampung sebelah ya”
“Ngapain kesitu nak? Kita itu berbeda dengan yang lain”
“Baim pamit dulu ya Bu, assalamualaikum”
“Wangalaikum salam, iya ampun itu anak dibilangin ya” gerutunya dalam hati.

Baim berjalan menuruni anak tangga yang terbuat dari bambu. Berlari meninggalkan halaman rumahnya melewati segerombolan anak-anak yang sedang bermain judi. Di kampungnya.
“Im sini, lu mau kemana?”
“nggak ikutan pasang ni”
“Enggak, aye mau main ke kampung sebelah” jawab Baim dengan nada yang lantang.
Baim berjalan melewati gang-gang sempit yang kanan kirinya hanya rumah berdimpitan. Baim berlari-lari kecil. Menikmati udara yang begitu polos menyapa dirinya.  Angin sepoi-sepoi berhembus seperti alunan melodi yang mengiringi langkah Baim. Ia terdiam di depan segerombolan anak-anak yang sedang bermain kelereng. Ia menatapnya, memperhatikannya dalam hatinya ia ingin sekali dapat bermain dengan mereka.
“Mau ikutan?” seru salah seorang bocah
“Iya mau” sambil mengeluarkan kelereng dari kantong sakunya
Baim mengeluarkan beberapa kelereng. Memainkannya dengan jemarinya yang polos dan tak berdosa. Baim yang lugu tidak tau mengapa kampungnya tidak disukai oleh kampung sebelah. Warga di kampung sebelah tidak pernah menginjakan kakinya ditanah kampung Baim. Pagar keliling yang tingginya kurang lebih dua meter mengitari kampungnya dan membuat Baim penasaran mengapa kampungnya begitu tertutup pada kampung yang lain. Bahkan di pintu masuk menuju halaman terdapat dua preman sebagai penjaga kampungnya. Orang-orang di kampung sebelah menganggapnya sebagai kampung preman dan wanita jalang. Tidak semua warga kampung lain berani memasuki area tersebut.
“Wah hebat banget ni anak main kelerengnya” seorang bocah tertegun melihat Baim memainkan kelereng
“Ini anak dari mana ya?”
“Kok kayak bukan anak kampung kita?”
“Iya aku juga baru pernah liat anak ini”
“Wah perlu diwaspadai ”
 “Eh ayo kita mandi dulu saja sebentar lagi kita mau ngaji” seru salah seorang bocah berambut ikal kepada Baim dan teman-temannya yang lain.
“Iya kita mau siap-siap ngaji dulu ya im”
Segerombolan bocah tadi pergi meningglkan Baim. Pak Ustadz sudah berada di dalam mushola sebelum muridnya datang. Kegiatan mengaji dimulai dengan melakukan sholat ashar bersama-sama. Baim yang polos menirukan setiap gerakan sholat di serambi mushola. Ia ingin sekali bisa belajar sholat seperti teman-temannya.
***
Malam sedikit kelabu. Bintang-bintang tidak berkedipan seperti malam dari biasanya. Pandangan kosong. Pikirannya dipenuhi oleh hal-hal yang membuatnya pusing. Hatinya gusar. Dalam hati ia menyesali dan sangat menyesali pekerjaannya itu.
“Hai ngalamun terus” sapa pria setengah baya
“Nggak kok, aku lagi ga enak badan aja”
“Yaudah mukanya jangan ditekuk gitu”
“Aye pusing bang. Baim sekarang udah gede, lama kelamaan dia juga tahu apa pekerjaan ibunya. Aku harus cari pekerjaan lain. Aku ngelakuin ini semua juga demi Baim biar dia bisa sekolah, kan dia bentar lagi udah mau masuk sekolah”
Bang Tapir terdiam. Tertegun mendengar apa yang sudah diucapkan oleh Ratih, ibu Baim. Matanya tak mampu membendung air mata yang sebentar lagi turun dari kelopak matanya. Mereka saling terdiam. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Ia tak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Suatu malam Ratih bermimpi, dalam mimpinya Ayah dan Ibunya datang menemuinya, mereka mengatakan agar Ratih berhenti dari pekerjaannya itu. Ibunya menangis melihat keadaan Ratih sekarang, Ratih juga menangis tiada henti di pangkuan Ibunya. Dulu, sewaktu Ratih pamit pergi merantau ke Jakarta ia mengatakan akan bekerja di suatu pabrik dan berjanji akan sering memberi kabar kepada Ibunya. Sekian tahun lamanya Ratih tidak memberi kabar tentang keberadaannya di Jakarta. Ia sebenarnya tidak berani untuk mengungkapkan kepada keluarganya dirumah mengenai keadaannya di Jakarta. Bahkan keluarganya pun tidak mengetahui bahwa Ratih sudah mempunyai anak. Bang Tapir mengusap-usap rambut Ratih dan menemaninya menangis. Malam kian larut, menenggelamkan bulan yang kian surut. Satu per satu bakul-bakul beranjak pergi. Segerombolan pria meninggalkan bale kecil yag sering mereka gunakan untuk judi. Ratih mengusap air matanya, berjalan menuju dalam rumahnya karena hari akan semakin pagi. Sarah heran melihat Ratih yang mukanya lusuh.
“Eh elu kenapa nangis?”
“Semalem gue mimpi ayah ibu gue datang dan ngingetin agar berhenti dari pekerjaan kayak gini”
“Gue bingung harus gimana lagi, sampai kapan kita mau hidup seperti ini?”
“Aku juga terpaksa tih, aku tidak tahu nyari duit darimana lagi untuk biaya pengobatan emakku. Emakku sakit keras dia butuh pengobatan dan aku udah memilih jalan ini sebagai biaya pengobatan emak. Aku terpaksa Ratih.”
Setelah mengucapkan kalimat-kalimat itu seluruh tubuhnya hampir kaku semua. Langkah kakinya terasa berat diangkat. Sapaan angin telah mengunci bibirnya. Sarah lemas. Kakinya tak mampu menopang badannya. Ia terjatuh  dengan posisi duduk ke lantai. Ratih langsung memeluk sarah. Mereka berpelukan. Tangis mereka pecah malam itu.
***
“Bu, Baim beliin baju koko sama sarung yang baru ya, Baim pengin belajar sholat di kampung sebelah sama Pak Ustadz”
“Eh elu serius im mau belajar sholat, emang Ustadz mau ngajarin elu?”
“Mau bu. Kemaren Baim juga udah ikut ngaji bareng”
“Beneran? Kampung kita itu berbeda dari kampung yang lain Baim”
Iiya beneran Bu”
“Yaudah besok Ibu diajak ketemu Pak Ustadz ya”
“Iya Bu, Baim pergi dulu ya, assalamualaikum”
“Wangalaikum salam”
Seperti biasa, Baim berlari-lari kecil menikmati angin sepoi-sepoi sambil menunggu adzan ashar berkumandang. Anak-anak yang biasa bermain kelereng di samping mushola sore ini tidak ia temui. Baim duduk-duduk di serambi mushola sambil menghafalkan surat-surat Al-Quran yang sudah diajari oleh Pak Ustadz. Tak lama kemudian Pak Ustadz datang dan membuka pintu musholanya.
“Im yang lain pada kemana?”
“Kok jam segini belum dateng”
“Gak tau pak”
“Yasudah mari kita sholat berjamaah dulu saja”
Suara keributan membuyarkan Pak Ustadz ketika sedang melakukan wirid. Mereka menggedor-gedor pintu dan jendela sambil berteriak dengan lantang layaknya seorang demonstran.
“Pak Ustadz keluar pak”
“Hey Ustadz Zukri keluar” seru seorang bapak-bapak memanggil nama ustadznya.
“Ada apa ini?” jawab Pak Ustadz dengan nada yang penuh bijaksana.
“Apa-apaan mushola kampung kita dimasuki oleh anak haram seperti dia” tangannya sambil menujuk pada Baim
“Istighfar Pak, istighfar. Tidak ada anak haram disini. Ini kan mushola, rumah Allah. Siapa saja boleh memasukinya. Baim itu ingin sekali belajar sholat Pak. Sungguh mulia bukan niat yang ada di dalam dirinya?”
“Ah tidak peduli, pokoknya dia harus keluar dari mushola kampung kita. Saya tidak ingin melihat dia berada di kampung sini. Atau tidak Pak Ustadz yang akan kami pecat sebagai guru ngaji di kampung kita”
“Bapak-bapak tenang  semua. Saya akan membicarakannya dengan Baim baik-baik”
***
Baim duduk di bale depan rumahnya. Dia hanya melihat teman-temannya yang sedang bermain ceki. Baim yang masih anak-anak tidak mengerti mengapa Pak Ustadz untuk sementara waktu melarangnya tidak boleh berkunjung ke kampung sebelah. Baim, masih kecil dia belum paham mengapa ketika kemaren pulang dari mushola ibu-ibu di kampung sebelah memakinya dengan anak haram. Baim tidak memerdulikannya ia tetap saja jalan sambil melantukan surat-surat Al-Quran yang ringan-ringan. Kelahiran Baim seperti anugerah bagi kampungnya. Keesokan harinya Baim tidak datang menuju mushola yang berada di kampung sebelah. Dia sholat sendiri di dalam kamarnya, setelah selesai sholat ia memanjatkan doa kepada yang Kuasa memohon agar ibunya selalu diberi kesehatan dan keberkahan rezeki. Ibunya yang sedang meyetrika di sebelahnya tiba-tiba menangis sesenggukan dan langsung memeluk Baim.
“Ibu kenapa nangis?”
“Maafkan ibu nak”
“Ibu jangan nangis. Baim ngga akan ninggalin Ibu sendirian”
“Iya nak” Ratih tidak bisa mengucapkan kata-kata lagi. Ia hanya ingin memeluk anaknya yang berada di sebelahnya.
 “Baim pengin bisa ngaji sama belajar sholat kayak temen-temen yang lain Bu”

Mendengar ucapan-ucapan yang dikatakan oleh Baim ibunya semakin menangis hingga membuat orang-orang yang berada di lantai bawah berlarian menuju lantai atas. Kian hari Baim akan mengerti dan paham pekerjaan apa yang sudah di lakukan oleh Ibunya. Sebentar lagi Baim juga akan masuk sekolah. Ibunya tidak mungkin merawat dan mengasuh Baim dengan berada di lingkungan yang kurang tepat untuk anak seusia Baim. Tangis Ibunya menyalur kepada teman-teman Ibunya yang lain. Mereka berpelukan sambil menangis. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Firasat - Dewi Lestari

Peluk - Dewi Lestari

Analisis Sastra Anak