Analisis Sastra Anak




BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang dan Teori

Sastra anak adalah karya sastra yang ditulis oleh anak-anak maupun orang dewasa yang berisi citra dan metafora kehidupan yang mencerminkan perasaan dan pengalaman anak-anak yang dapat dilihat dan dipahami melalui mata anak-anak  dan dapat memberi kesenangan dan pemahaman tentang kehidupan. Di dalam sastra anak juga memiliki genre seperti sastra pada umumnya. Secara garis besar Lukens mengelompokkan genre sastra anak ke dalam enam macam, yaitu untuk memahami sastra anak tersebut ada empat pendekatan yang dapat digunakan dalam menganalisis sastra anak.

a.       Pendekatan Mimetik
Pendekatan mimetik adalah pendekatan kajian sastra yang menitik beratkan kajiannya terhadap hubungan karya sastra dengan kenyataan di luar karya sastra (Abrams, 1981: 189). Pendekatan ini menganggap bahwa sebuah karya sastra yang dibuat merupakan refleksi dari kehidupan nyata. Refleksi terwujud dari tiruan dan gabungan imajinasi pengarang terhadap realitas kehidupan atau realita alam. Pengarang, melalui karyanya mengolah apa yang dilihat dan dirasakannya. Hal tersebut bisa berupa pandangan, ilmu pengetahuan atau religius yang terkait langsung dengan realitas. Kesamaan kehidupan dalam karya sastra dengan kehidupan sebenarnya yang melahirkan pendekatan mimetik ini.
b.      Pendekatan ekspresif
Pendekatan ini dititik beratkan pada eksistensi pengarang sebagai penulis. Pendekatan ini memfokuskan perhatiannya pada sastrawan sebagai pencipta atau pengarang karya sastra. Informasi tentang penulis memiliki peranan yang sangan penting dalam kajian apresiasi sastra. Karena itu, tinjauan ekspresif lebih bersifat spesifik. Dasar telaahnya adalah keberhasilan pengarang mengemukakan ide-idenya yang tinggi, ekspresi emosinya yang meluap, dan bagaimana dia mengkomposisi semuanya menjadi satu karya yang bernilai tinggi. Karya sastra yang didasari oleh kekayaan penjelmaan jiwa yang kompleks tentunya mempunyai tingkat kerumitan komposisi yang lebih tinggi dibanding dengan karya sastra yang kering dengan dasar jelmaan jiwa.

c.       Pendekatan objektif
Pendekatan objektif adalah pendekatan yang memfokuskan pada karya sastra itu sendiri tanpa ada kaitannya dengan hal diluar karya sastra. Pendekatan ini dilihat dari eksistensi sastra itu sendiri berdasarkan konvensi sastra yang berlaku. Konvensi tersebut misalnya, aspek-aspek intrinsik sastra yang meliputi kebulatan makna, diksi, rima, struktur kalimat, tema, plot, setting, karakter, dan sebagainya. Pendekatan ini juga disebut sebagai pendekatan struktural.

d.      Pendekatan pragmatik
Pendekatan pragmatik adalah pendekatan yang menitikberatkan atau memfokuskan kajiannya pada peranan pembaca. Bagaiaman seorang membaca karya sastra dapat menerima, memahami dan menghayati sebuah karya sastra. Pendekatan ini mengkaji dan memahami karya sastra berdasarkan fungsinya untuk memberikan pendidikan (ajaran) moral, agama, maupun fungsi sosial lainnya. Semakin banyak nilai pendidikan moral dan atau agama yang terdapat dalam karya sastra dan berguna bagi pembacanya, makin tinggi nilai karya sastra tersebut. Horatius dalam art poetica menyatakan bahwa tujuan penyair ialah berguna atau memberi nikmat, ataupun sekaligus memberikan manfaat dalam kehidupan. Dari pendapat inilah dimulai pendekatan pragmatik.




BAB II
PEMBAHASAN

1.                  Analisis cerita anak dengan menggunakan pendekatan mimetik

Cerita anak yang berjudul “Buku yang Mengusik Jiwa” merupakan salah satu bacaan anak untuk kategori usia Sekolah Dasar yaitu sekitar usia 9-12 tahun. Dalam cerpen tersebut disebutkan bahwa Hairus tidak bisa bernyanyi, padahal kakeknya adalah mantan penyanyi keroncong terkenal di kotanya. Ia merasa minder dan malu karena tidak bisa bernyayi. Dalam kehidupan nyata, anak yang tidak bisa melakukan sesuatu dibandingkan dengan teman-temannya biasanya akan minder dan malu, karena pada usia tersebut mereka belum mempunyai jiwa atau keyakinan diri yang kuat bahwa suatu saat nanti akan bisa. Faktor keluarga dan lingkungan, baik itu lingkungan masyarakat maupun sekolah sangat memengaruhi  tingkat perkembangan anak. Hairus, yang tidak bisa bernyanyi akhirnya bisa bernyanyi berkat kakeknya yang setia mengajarinya. Hairus berusaha keras agar dia bisa menyanyi di depan teman-temannya. Ia mengunjungi rumah Kakeknya untuk memintanya diajari belajar bernyanyi.
Pada kehidupan nyata Lingkungan keluarga mempunyai pengaruh yang besar terhadap tumbuh kembang anak. Lingkungan ini akan memberi peluang yang besar untuk menciptakan daya kreatif dan imajinatif anak. Dibantu oleh kakeknya, Hairus belajar bernyanyi dengan cara menirukan suara-suara binatang dan menahan napas di dalam air. Kakeknya menjadi tokoh motivator Hairus untuk semangat belajar bernyanyi, hal ini dibuktikan dengan kalimat “Kau harus yakin bahwa kau bisa,” kata Kakek yang bergegas meninggalkan Hairus. Dalam realita kehidupan semangat dari orang-orang sekitar sangat dibutuhkan ketika sedang down. Hingga menjelang tidur Hairus teringat kata-kata yang diucapkan oleh kakeknya tersebut bahkan di dalam tidurnya ia sampai bermimpi. Hairus semakin giat dan bersungguh-sunggu membaca lirik buku musik.
Lingkungan sekolah juga sangat berperan dalam dunia pertumbuhan anak. Lingkungan sekolah merupakan tempat belajar, menutut ilmu pengetahuan dan membentuk kepribadian yang beretika. Bahkan lingkungan sekolah inilah yang memiliki peranan yang lebih besar untuk menciptakan daya kreasi dan daya imajinatif anak. Di lingkungan sekolah ini siswa diajarkan banyak hal mulai dari pengetahuan, seni dan kepribadian anak. Apalagi untuk usia anak-anak, mereka berinteraksi dengan teman-teman sebayanya biasanya melalui lingkungan sekolah. Di sekolah, Hairus menjadi bahan ejekan teman-temannya ketika dia tidak bisa bernyayi di depan kelas padahal kakeknya adalah legendaris keroncong di kotanya. Ejekan dari teman-teman Hairus tidak menyurutkan semangat Hairus agar bisa bernyayi di depan kelasnya. Bahkan saat maju penilaian mata pelajaran seni musik Hairus menjadi percaya diri ketika akan bernyayi menyanyikan lagu daerah. Mata dan telinga teman-temannya tersihir melihat dan mendengar suara Hairus yang memesona.
Dalam dunia anak-anak mereka sangat haus akan pengetahuan dan pengalaman. Pengetahuan dan pengalaman mereka dapatkan dimanapun dan kapanpun berada. Pada usia tersebut anak-anak memliki rasa ingin tahu yang lebih dan ingin merasa serba bisa. Mereka bisa melakukan apa yang ingin mereka lakukan sesuai dengan kehendak hati mereka. Anak-anak menyukai hal-hal baru yang belum pernah mereka coba, baginya melakukan hal-hal baru adalah melakukan sesuatu yang menantang dan menyenangkan.

2.                  Analisis Puisi sastra anak dengan menggunakan pendekatan objektif untuk mengetahui ciri struktur puisi anak
2.1 Hasil analisis  puisi berjudul “Piala Dunia”
Puisi anak berjudul “Piala dunia” karya penyair cilik Afidah Nur Aslomah, siswi kelas V di salah satu Sekolah Dasar yang berada di daerah Tangerangmenceritakan tentang piala dunia yang eksistensi piala dunia sangat fenomena di kancah dunia hingga pelosok desa-desa.Dengan membaca bahkan melihat larik-larik puisi tersebut intensitas penggunaan rima sangat dominan. Puisi yang disampaikan oleh pengarang tersebut dalam hal bahasa maupun makna masih polos, lugas dan apa adanya. Keindahan bunyi puisi itu memberikan kesenangan, kepuasan, dan kebahagiaan tersendiri. Kesenangan dan dan kepuasaan itu lebih diperoleh  karena bunyi-bunyi permainan bahasa yang indah daripada intensitas makna yang dikandung puisi itu sendiri. Pementingan unsur rima dan irama tersebut sekaligus menujukkan kepada kita bahwa puisi anak hadir untuk anak terutama lewat bunyi yang dibaca atau dilagukan dan bukan lewat tulisan.  Puisi yang berjudul “Piala dunia” diatas pendayaan pola bunyi dilakukan lewat persajakan dengan dominannya bunyi vokal /a/ yang nyaris terdapat di semua akhir larik yang ada, dan itu juga sekaligus bersajak dengan judul: “Piala dunia”.
Dengan melihat dan membaca bahwa si penyair yaitu Afidah Nur Aslomah telah mengusahakan pola bunyi tertentu, yang sebenarnya bukan hanya /a/ saja untuk memperoleh keindahah pada efek puisinya. Puisi “Piala dunia” berbicara tentang ungkapan hati si penulis bahwa dengan adanya piala dunia ia berharap agar kesebelasan liga Indonesia bisa masuk dalam liga dunia dan menjadi juara pertama yang disampaikan dengan ciri khas anak-anak, lugas dan polos. Selain itu, penulis juga mengungkapkan bahwa piala dunia merupakan event  lingkup dunia yang hampir seluruh jagad raya mengetahui tentang piala dunia. Itu semua diungkapkan lewat puisi yang dirasakan dapat mewakili perasaannya.  Aspek bunyi dalam puisi tersebut di dominasi oleh vokal /a/ serta dalam kombinasinya dengan bunyi-bunyi konsonan yang bervariasi tampak mampu memberikan sugesti terhadap terciptanya nada penuh antusias. Pada puisi tersebut bunyi vokal /a/ dan /i/ serta konsonan /n/ pada larik-larik //Piala dunia sepak bola /Gaungnya begitu membahana/ Di seluruh penjuru dunia//adalah contoh sajak asonansi dan aliterasi yang terasa dominan.

Irama dalam puisi tersebut dibangkitkan lewat urutan kata. Puisi tersebut bisa dibacakan dengan nada sedang dan irama agak pelan. Permainan bunyi dan pilihan kata yang tepat lewat berbagai persajakan membuat alunan bunyi puisi tersebut dapat dibangkitkan sesuai irama untuk saling memperkuat dan memperindah bunyi yang dihasilkan.
Seleksi kata-kata pada sebuah puisi adalah jaminan pemerolehan kenikmatan emotif dan kemudahan pemahaman dialog yang ditawarkan. Eksistensi dan keindahan sebuah puisi dapat ditentukan oleh kualitas kata-kata yang membangun puisi tersebut. Di dalam puisi berjudul “Piala dunia” yang ditulis oleh siswi SD tersebut dapat kita lihat bahwa anakpun dapat dikatakan mampu untuk menyeleksi kata-kata yang mana yang tepat digunakan. Seperti katagaung, berlaga,demam  bola yang sebenarnya kata-kata itu tidak sering diucapkan oleh si penyair cilik tersebut namun kata tersebut dapat digunakan secara tepat, yang pasti sebuah kata tersebut dipilih berdasarkan ketepatan bunyi, bentuk dan makna.
Bahasa kiasan yang digunakan di dalam puisi tersebut adalah penggunaan kata “demam boladan gila sepak bola” yang terdapat pada larik ketujuh //Demam bola, gila sepakbola//. Dimana arti demam yang sebenarnya adalah merupakan suhu panas badan yang tinggi yang berbeda dari biasanya. Namun dalam puisi tersebut arti demam dimaknai sebagai suatu euforia yang dalam dengan adanya piala dunia. Kata gila padamakna puisi tersebut adalah bukan orang yang hilang akal tetapi arti gia bola pada larik ketujuh tersebut dimaknai sebagai perasaan suka atau cinta yang mendalam terhadap bola.
Pemilihan bunyi-bunyi yang terpola secara tepat menyebabkan puisi menjadi enak dan lancar dibaca, merdu, dan memiliki efek efonis. Dalam puisi berjudul “Piala dunia” keindahannyater letak di hampir setiap larik yang berakhiran vokal /a/ sehingga saat dibacakan, bunyi yang dihasilkan mampu membangkitkan asosiasi dan suasana tertentu. puisi berjudul”Piala  dunia” tersebut disampaikan secara sederhana, lugas dan polos sebagaimana cara berpikir anak yang juga lugas dan polos. Hal menarik dari puisi tersebut ialah si penyair menggambarkan puisi tersebut berbicara, berpikir dan memlih kata sesuai kacamata anak.
Dalam puisi tersebut selain kesederhaan dalam seleksi kata yang digunakan tentu memiliki makna. Puisi tersebut merupakan sebuah pengharapan dari pengarang dimana ia sangat berharap kesebelasan laga Indonesia dapat bermain di piala dunia hingga mendapat juara pertama. Puisi tersebut disampaikan oleh si pengarang secara lugu. Dimana sesuatu yang dibicarakan lewat puisi tersebut dipandang dari kacamata anak, karena pengarang puisi tersebut juga masih dalam ketegori anak-anak. Dilihat dari macamnya puisi tersebut merupakan puisi lirik, dimana isi puisi tersebut merupakan ungkapan atau curahannya kepada bangsa Indonesia agar kesebelasan laga Indonesia dapat bermain di piala dunia.

2.2 Hasil analisis puisi “Kasih Bunda”
Dengan membaca puisi tersebut intensitas penggunaan rima dominan dengan huruf vokal /u/ yang ada di tiap baitnya. Rima atau ritme dalam larik puisi “Kasih Bunda” berbicara tentang ungkapannya kepada ibundanya yang telah merawatnya dari kecil. Di dalam puisi tersebut diceritakan bahwa bunda adalah orang yang terkasih dan sangat bermakna dalam hidupnya, apapun yang diminta oleh sang anak lantas diturutinya. Di lubuk hati yang paling dalam lewat puisinya si penyair juga memohon maaf pada ibunya dan berdoa pada Tuhan agar ibundanya selama dalam diberi keselamatan. Aspek bunyi dalam puisi tersebut tiap akhir barisnya bervariasi dihiasi oleh bunyi konsonan seperti bunyi /ng/ pada baris keempat, bunyi /m/ pada baris kesepuluh dan bunyi konsonan /h/ pada baris ke empat belas. Bunyi vokal yang dominan akan membangkitkan efek keindahan bagi pembacanya.
Irama dalam puisi tersebut dibangkitkan oleh repetisi kata Bunda yang ada di tiap baitnya. Alunan ritme dalam puisi tersebut dibangkitkan secara sengaja lewat permainan bunyi dan lewat berbagai persajakan terutama sajak aliterasi dan asonansi yang membangkitkan suasana bunyi. Puisi tersebut dibacakan dengan nada yang sedang dan pelan agar apa yang disampaikan puisi tersebut dapat menyentuh hati pembaca. Seleksi kata yang digunakan sangat berkaitan dengan aspek bunyi. Pengarang tersebut sudah berusaha keras untuk menyeleksi tiap kata yang digunakan agar ketika puisi itu dibacakan dapat bernilai puitis dan memberikan efek keindahan maupun kesenangan bagi yang membacanya. Kata-kata yang digunakan dalam puisi tersebut mudah dipahami, sederhana, polos dan lugas sebagaimana hal itu merupakan karakteristik puisi anak-anak.
Bahasa dalam puisi tersebut pun jelas dan padat yang merupakan pengekspresian atau curahan dari pengarang kepada sosok yang sangat dikaguminya. Penyair puisi tersebut masih sangat belia dimana ia masih duduk dibangku SD. Di dalam puisinya ia menyampaikan secara polos tanpa dibuat-buat atau dilebih-lebihkan yang dapat diketahui dari pemilihan katanya. Kepolosan itulah yang mencerminkan dunia anak yang segala sesuatunya dipandang dari sisi mata pandang anak, bukan orang dewasa. Selain menunjukkan kesederhanaan dan kepolosannya puisi tersebut adalah ungkapan curahan seorang anak pada Bundanya yang sangat dicintainya. Tema yang diangkat dalam puisi tersebut adalah orang tua. Dalam puisi tersebut sosok orang tua merupakan obsesi daya emosional puisi berjudul “Kasih Bunda”. Sosok bunda adalah segalanya bagi anak, karena orang tua merupakan orang yang terdekat dengan anak-anak.
Pada puisi “Kasih Bunda” menggambarkan rasa kasih sayangnya kepada Ibundanya lewat kata-kata yang bernilai citraan cepaan yang dibuktikan pada larik // Kuucapkan terima kasih kepadamu//. Selain itu pada bait pertama citraan atau imajeri yang digambarkan pada puisi tersebut menggunakan citraan visual sehingga mampu membangkitkan gambaran yang konkret:
//Bunda/ Kau yang telah membesarkanku/Dan membahagiakanku/Dengan penuh kasih sayang//. Puisi tersebut mampu membangkitkan emosi, perasaan dan mood tertentu yang dibangkitkan lewat kata-katanya yang di ekspresikan sedemikian rupa dengan cara yang intensif dan ekspresif. Puisi tersebut merupakan lontaran jiwa hati yang berisi ungkapannya pada Bundanya. Puisi tersebut membangkitkan suasana kehangatan rasa kasih sayang paba Ibundanya.

2.3 Hasil analisis puisi “Tanah Indonesia”
Puisi diatas adalah karya penyair cilik yang bernama Anggun Latifah. Si pengarang berusaha membangkitkan  alunan bunyi tersebut lewat permainan kata yang sudah diseleksinya, lewat sajak asonansi dan aliterasi. Puisi tersebut terdiri atas empat bait yang tiap baitnya berisi empat baris. Dilihat dari tipografinya puisi tersebut tmemang terlihat seperti pantun. Puisi tersebut bernada perjuangan dimana ketika puisi tersebut dibacakan dengan nada yang semangat , nada tinggi dan irama yang lebih cepat. Dengan membaca puisi tersebut si pengarang berusaha menguatamakan aspek bunyi. Hal itu terlihat pada bait pertama larik pertama dan kedua yang berakhiran konsonan /n/ kemudian larik ketiga dan keempat diakhira oleh akhiran vokal /a/. dalam puisi tersebut aspek bunyi melekat pada kata. Tidak ada aspek bunyi yang dominan dalam puisi tersebut, karena hampir di setiap baitnya tidak ada akhiran konsonan maupun vokal yang mendominasinya.
Aspek bunyi dalam puisi tersebut membangkitkan suasanan semangat bagi yang membaca. Dominannya pengulangan kata “Indonesia” mendukung untuk terciptanya efek ritmis dan melodius. Puisi tersebut ditulis oleh seorang bocah yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar.  Selain berbicara mengenai alam Indonesia juga mengungkapkan keresahannya pada manusia yang tak bertanggung jawab yang telah merusak alam Indonesia. Hal ini diungkapkan pada bait kedua
Akan tetapi……
Banyak tangan jahil
Yang tak bertanggung jawab
Yang merusak keindahanmu
Walaupun si penulis masih anak-anak ia juga menunjukkan bahwa puisi yang diciptakannya pun sudah mampu berbicara mengenai masalah sosial. Dimana dalam bait puisi kedua tersebut si penulis mengungkapkan keresahannya pada oknum-oknum yang tak bertanggung jawab yang telah merusak keindahan alam Indonesia. Hal itu disampaikan dengan cara yang khas anak-anak yaitu polos dan lugas.
            Irama dalam puisi tersebut dibangkitkan oleh rima yang pada tiap lariknya berakhiran rima yang sama seperti pada bait pertama larik pertama dan kedua: //Begitu banyak keindahan/  Hutan, gunung, dan lautan/ Itulah alam indonesiaSurga di tanah khatulistiwa//. Dengan urutan kata tersebut meningkatkan derajat keritmisan dan kemelodiusan puisi. Wujud nada dalam puisi tersebut disampaikan melalui pilihan kata-kata dan bunyi yang dihasilkan. Irama dalam puisi tersebut muncul di setiap lariknya sehingga menimbulkan efek melodius dan orkestrasi ketika dibacakan atau di dengarkan. Jumlah suku kata dalam tiap lariknya kurang lebih sama antara suku kata
Begitu banyak keindahan                                9 suku kata
Hutan, gunung, dan lautan                            
8 suku kata
Itulah alam indonesia                                     
10 suku kata
Surga di tanah khatulistiwa                            
10 suku kata

Pada puisi tersebut si pengarang (Anggun Nur Latifah) menggambarkan kekagumannya pada alam Indonesia lewa diksi-diksinya yang bernilai citraan visual secara jelas sehingga mampu membangkitkan gambaran secara konkret: //Begitu banyak keindahan/ Hutan, gunung, dan lautan/Itulah alam indonesia/Surga di tanah khatulistiwa//.
Bahasa kias yang digunakan dalam puisi tersebut masih bisa dikatakan masih mudah dimengerti. Seperti pada bait pertama larik keempat //Surga di tanah khatulistiwa/. Si pengarang menggambarkan negara Indonesia seperti surga yang kaya akan kekayaan alamnya. Dimana makna dari kata surga yang sebenarnya merupakan sebuah tempat  alam akhirat yang membahagiakan manusia yang hendak tinggal di dalamnya. Penulis melukiskannya dengan kata surga, yang menurut imajiner anak-anak surga adalah tempat yang paling nyaman yang kenyamanan tempatnya tidak ada yang bisa menyamainya. Penulis lebih memilih kata surga untuk menggambarkan kekayaan alam Indonesia.
Di dalam puisi tersebut diceritakan bahwa alam Indonesia mulai rusak oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Hal tersebut membangkitkan daya emosional puisi dimana puisi tersebut mengkritik kepada negara Indonesia sendiri akan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Daya emosional puisi tersebut disampaikannya dengan kata-kata yang sederhana, lugas dan  polos.

3. Hasil Analisis Drama “Persahabatan” dengan pendekatan pragmatik
Drama dengan judul “Persahabatan” bercerita mengenai kejujuran seorang siswa yang mencuri tugas teman satu kelasnya. Di suasana kelas yang ribut dan gaduh seorang guru memasuki ruang kelas. Guru tersebut meminta kepada siswanya untuk mengumpulkan tugas prakarya. Seorang siswa yang bernama Krisna bingung mencari tugas prakarya yang berada di dalam tasnya hingga ia mengeluarkan seluruh isi tasnya dan mencarinya berulang-ulang. Melihat hal tersebut, ibu guru mendekati Krisna dan menanyakan apakah sebenarnya Krisna sudah mengerjakan tugas atau belum, dengan tegas Krisna menjawab sudah. Rendy, teman satu kelasnya mencibir bahwa Krisna belum mengerjakan tugas karena tugasnya tidak ada. Akhirnya ibu guru memberikan waktu pada Krisna agar tugasnya dikumpulkan besok. Tak berapa lama kemudian bel berbunyi. Rozy, Dinda dan Rendy berjalan sambil mengobrol, dari arah berlawanan Krisna juga sedang berjalan dan dengan sengaja ia menabrak Rozy hingga terjatuh. Rendy tidak terima melihat perlakuan Krisna yang seenaknya saja. Ia melemparkan kepalan tangan dan tinjunya pada Rendy. Mereka berkelahi saling membalas pukulan. Rozy dan Dinda berusaha melerai dan saat itu juga ibu guru datang menghampiri mereka. Krisna lalu meminta maaf pada ibu guru karena telah melakukan tindakan kekerasan. Ia mengungkapkan kepada Ibu guru motif dibalik menabrak Rozy dengan sengaja, ia kesal dengannya bahwa tugas yang dikumpulkan Rozy sama persis dengan miliknya. Ia menuduh Rozy bahwa ia yang telah mengambil tugasnya. Ibu guru lalu bertanya pada Rozy dan akhirnya ia mengaku telah mencuri tugas milik Krisna karena ia takut akan dimarahi oleh Ibu guru karena belum mengerjakan tugas. Ibu Rozy sedang sakit sehingga ia sampai tak sempat untuk mengerjakantugas. Rendy dan Dinda terkejut mendengar pengakuan Rozy. Ibu guru menyuruh Rozy untuk meminta maaf pada Krisna. Rendy juga meminta maaf pada Krishna karena telah menuduhnya tidak mengerjakan tugas. Akhirnya mereka saling memaafkan dan kembali bersahabat.
Naskah drama “Persahabatan” merupakan naskah drama untuk usia anak-anak, tepatnya untuk anak SD sekitar usia 9-12 tahun. Drama tersebut mengajarkan pada anak dan kita (pembaca) bahwa dalam kondisi dan situasi apapun jangan mengambil sesuatu yang memang bukan miliknya. Berikut kutipan dalam dialog drama “Persahabatan”
Ibu Guru        : “Ya sudah sekarang Rozy meminta maaf kepada Krisna dan Rozy harus berjanji tidak akan pernah mencuri lagi karena mencuri adalah perbuatan dosa.”
Selain itu drama tersebut juga mengajarkan pada kita (pembaca)  agar tidak menuduh sembarangan dan agar saling memaafkan satu sama lain. Sikap-sikap ini juga  penting diajarkan kepada anak-anak agar nanti ketika mereka dewasa dapat menjadi manusia yang bermoral dan berakhlak mulia. Kita harus menanamkan pada diri mereka agar untuk saling memaafkan satu sama lain.
Dinda                          : “Nah gitu dong! Kita harus saling memaafkan karena kita adalah sahabat untuk sekarang dan selamanya.”
Melalui pendekatan pragmatik terdapat maksud dari pengarang bahwa dalam kehidupan sehari-hari jangan menuduh orang sembarangan sebelum ada buktinya. Hal ini dibuktikan dengan kalimat berikut.
“Dinda                        : “Husssttt…!!! Rendy jangan menuduh seperti itu.”
Sikap jujur dalam mengakui kesalahan sudah semestinya dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Agar nantinya hidup kita nyaman karena tidak diselimuti oleh rasa bersalah yang nantinya bisa menghantui kehidupan kita.
Rozy                : “Maafkan saya juga Kris sudah mencuri tugas kamu.”
Tokoh Rozydalam drama tersebut selain punya sisi positif juga punya sisi negatif. Sisi positifnya ia berani mengakui kesalahan yang sudah diperbuatnya. Mengakui kesalahan yang sudah diperbuat merupakan suatu sikap yang luar biasa yang patut kita hargai.
Kita sebagai pembaca, sudah semestinya dapat memahami dan menerapkan ajaran-ajaran moral yang terkandung di dalam karya sastra. Naskah drama berjudul “Persahabatan” bukan semata-mata mengajarkan pada kita sebagai pencuri dan melakukan kebohongan namun memberikan maksud kepada kita (pembaca) bagaimana cara menanamkan sikap kejujuran dan saling memaafkan pada anak-anak. Selain itu pengarang juga menyampaikan kepada kita (pembaca) dalam situasi dan kondisi apapun hendaknya jangan mengambil hak orang lain yang memang bukan hak kita. Jika hak orang lain kita ambil, pasti hidup kita nantinya tidak tenang. Kegelisahan dan rasa was-was akan menyelimuti hidup kita.



BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan

Berdasarkan pemahaman dalam pembahasan tersebut maka penulis dapat menyimpulkan bahwa setiap pendekatan yang digunakan memiliki pandangan yang berbeda-beda yang digunakan untuk menganalisis sebuah karya sastra. Dalam analisis cerpen tersebut penulis menggunakan pendekatan mimetik, yaitu dimana penulis harus menganalisis cerpen tersebut dengan menghubungkannya dengan alam. Pendekatan mimetik memandang bahwa seorang penulis membuat karya sastra berdasarkan tiruan alam. Apa yang dilihat dan dirasakannya menjadi objek bagi penulis untuk membuat karya sastra.Selanjutnya dalam menganalisis tiga puisi diatas penulis menggunakan pendekatan objektif, yaitu pendekatan yang berkaitan dengan karya sastra itu sendiri tanpa ada pengaruh dari hubungan luar karya sastra. Sebenarnya, pendekatan objektif ini hampir sama menganalisis karya sastra dengan melihat unsur instriknya. Sedangkan, dalam menganalisis naskah drama diatas penulis menggunakan pendekatan pragmatik, yaitu pendekatan yang memfokuskan atau menitikberatkan dari segi peranan pembaca.

3.2 Saran
Setiap pendekatan memiliki kelemahan dan kelebihan yang berbeda-beda. Tidak ada salahnya jika kita mengalisis sastra anak dengan salah satu pendekatan saja. Tetapi jika pembaca ingin mengetahui lebih dalam lagi pembaca dapat mengalisisnya dengan berbagai pendekatan yang ada dalam sastra anak agar pengetahuan dan informasi yang di dapatkan lebih banyak lagi.
Buku bacaan sastra anak sangat penting disuguhkan pada anak-anak. Dengan membaca buku sastra anak, anak dapat mendapatkan pengalaman baru, pengetahuan dan nilai-nilai kehidupan yang sangat bermanfaat untuk anak-anak dalam proses perkembangannya.



Daftar Pustaka

Nurgiyantoro, Burhan. 2005. “Sastra anak: Pengantar Pemahaman tentang dunia anak”, Yogyakarta: Gadjah Mada Univesity Press.
Guru Shinta, Nona. “Teks Drama Anak SD Persahabatan”. 23 Desember 2014. http://nonagurusdn2bojongwetan.blogspot.com/2011/02/teks-dramaanaksdpersahabatan.html.












LAMPIRAN

1.     Cerpen Anak
Buku Musik Yang Mengusik Jiwa

Yang ada di hadapan kalian adalah buku untuk pelajaran musik,” kata Pak Zira, guru seni musik, saat mengajar di kelas enam.
”Tolong nanti malam dibaca, pelajari lirik-lirik lagu yang ada di buku musik itu. Minggu depan kita akan menyanyikan lirik lagu itu satu per satu,” Pak Zira menambahkan.
”Baik, Pak!” seru siswa serentak.
TING-TONG…, ting-tong! Bunyi bel pulang. Setelah berdoa dan mengucapkan salam. Semua siswa berhamburan meninggalkan kelas.
Sesampai di rumah, Hairus langsung masuk kamar. Meletakkan tas sekolah, berganti pakaian, ia lalu makan siang. Setelah itu, ia pergi menuju rumah Kakek dengan membawa buku musik.
Rencananya, Hairus ingin minta diajari menyanyi oleh Kakek. Di kota ini, siapa yang tidak kenal kakek Hairus. Mantan penyanyi keroncong yang pernah melegenda karena suara merdunya.
Sampai sekarang, sekalipun kakek Hairus sudah berusia hampir tujuh puluh tahun, tetapi jika menyanyi masih bisa membikin tidur anak-anak. Sangat indah dan merdu.
Namun, anehnya, sekalipun punya kakek mantan penyanyi terkenal, Hairus tidak suka dengan menyanyi. Pastilah karena suara Hairus benar-benar jelek. Bisa dikatakan suaranya terjelek di kelas. Makanya, mata pelajaran seni musik adalah pelajaran yang paling tidak disukai Hairus.
”UUUHHH…., Kek! Aku dapat tugas lagi menghafalkan lagu-lagu daerah untuk dinyanyikan minggu depan,” protes kesal Hairus kepada Kakek.
”Ha-ha-ha…,” Kakek tersenyum khas dengan gigi-giginya yang ompong.
”Kenapa ya, Kek, masih ada pelajaran seni musik. Andai ada sekolah yang tidak ada mata pelajaran seni musiknya, pasti aku pindah ke situ, Kek,” kata Hairus semakin kesal.
”Atau aku minggu depan tidak usah berangkat saja ya, Kek,” tambah Hairus sambil melempar buku musiknya.
”Jangan begitu, Hairus. Seni musik itu penting untuk perkembangan jiwa dan….”
Ah, kalau sudah begini, Kakek bisa bicara berjam- jam. Hairus pun segera memotong perkataan Kakek.
”Ajari aku menyanyi ya, Kek?”
”Baik, kebetulan Nenek tidak di rumah, sedang menginap di rumah Bude Rita, dan besok kan hari Minggu. Jadi, kamu malam ini tidur menemani Kakek. Kakek jamin dalam waktu semalam, kau akan kubuat cinta pada musik. Ingat, Hairus! Dengan cinta dan suka pada musiklah, nanti kamu bisa menyanyi dengan indah. Menyanyi dari jiwa….”
”Baik, Kek,” Hairus kembali memotong perkataan Kakek.
Siang itu, Hairus diajak mandi di sungai dekat rumah Kakek. Saat mandi di sungai, Hairus disuruh berteriak-teriak yang keras dan menirukan suara berbagai jenis binatang. Setelah itu, Hairus juga diajak lomba berendam tak bernapas di dalam air. Hairus kalah.
”Ah, bagaimana kau, Hairus. Masak kalah berendam dengan Kakek. Ah, payah kau,” ejek Kakek.
Karena diejek, Hairus pun berusaha keras. Akhirnya Hairus berhasil mengalahkan Kakek.
”Yeeee…, aku berhasil,” teriak Hairus bangga.
Selanjutnya, Hairus diajak latihan pernapasan. Latihan, yang kata Kakek disebut sebagai dasar bernyanyi, dilakukan dengan menyenangkan, sampai tidak terasa hari mulai sore. Keduanya pun bergegas pulang. Hairus sangat senang bermain di sungai dengan Kakek.
Malam harinya, Hairus menuntut untuk diajari menyanyi. ”Ayo Kek, sekarang ajari bernyanyinya,” rengek Hairus.
”Kau sudah bisa bernyanyi Hairus. Kau sudah bisa berteriak lebih keras dari Kakek. Kau sudah bisa menahan napas dan berendam di sungai lebih lama dari Kakek. Kau sudah bisa menirukan suara binatang dengan bagus. Jadi, kau pasti sudah bisa menyanyi dengan baik. Tinggal satu hal….”
”Apa Kek?” potong Hairus.
”Kau harus yakin bahwa kau bisa,” kata Kekek yang bergegas meninggalkan Hairus.
”Kakek capek, mau istirahat dulu ya. Kau juga perlu istirahat,” kata kakek Hairus sambil berjalan menuju kamar.
Hairus bengong. Batinnya berkata, ”Kau harus yakin bahwa kau bisa!”
Kata-kata Kakek tadi terus dipikirkan Hairus, sampai dibawa ke dalam mimpi.
Hairus bermimpi membaca berkali-kali buku musik itu. Tapi, isi setiap halaman dari buku musik itu hanya: kau harus yakin bahwa kau bisa! Kemudian terdengar suara lucu dari dalam buku musik itu.
”Hairus, yakin itu harus percaya diri dan bisa itu harus dengan sungguh-sungguh. Itu kuncinya untuk bisa menyanyi dengan bagus.”
”Tapi bagaimana caranya?” tanya Hairus.
”Belajar dengan sungguh- sungguh.”
”Hairus, sudah siang,” suara Kakek membangun tidur Hairus.
”Ya, Kek.”
Sejak saat itu. Hairus pun belajar menyanyikan lirik di dalam buku musik itu dengan sungguh-sungguh.
”Hairus,” panggil Pak Zira, ”sekarang giliranmu menyanyi.”
Seperti biasanya, setiap kali Hairus mau menyanyi di kelas, pasti tawa teman-temannya meledak.
”Ini dia penyanyi kita, cucu dari jagoan raja keroncong di kota ini,” ejek Rico yang disertai tawa teman- temannya.
”Mari kita berdoa semoga kita tidak lekas sakit perut mendengar suara Hairus,” tambah Zizi.
Tapi, tidak seperti hari- hari sebelumnya, di mana saat diejek Hairus takut dan malu. Siang ini, Hairus melangkah dengan gagah penuh percaya diri.
Selesai mengucapkan salam dan menatap semua temannya dengan percaya diri, Hairus pun bernyanyi lagu ”Gambang Suling”.
Gambang Suling.
Kumandang suarane…
Seketika itu semua siswa tersihir dengan suara Hairus yang indah dan merdu. Tak ada berisik sedikit pun. Semua siswa menikmati alunan tinggi rendahnya intonasi suara Hairus dengan saksama.
Setelah Hairus selesai, langsung semua siswa berdiri dan bertepuk tangan, seperti sedang menyambut artis yang mau mendapat penghargaan….
”Hebat, Hairus…!!!” seru teman-temannya.
Adegan ini persis seperti seorang artis yang sedang konser kolosal.
Sejak saat itu, nama Hairus melegenda di seantero kelas, bahkan kota. Nama penerus raja keroncong telah lahir: Hairus.
”Ha-ha-ha…,” Hairus tertawa sendiri di kamar mengingat kejadian itu.
”Terima kasih Kek, terima kasih buku musik, karena bantuan kalian yang mengajarkan prinsip: kau harus yakin bahwa kau bisa!” kata Hairus dalam hati.
Heru Kurniawan Penulis Cerita Anak; Tinggal di Purwokerto

2.     Puisi Anak

A.    Puisi anak “Piala Dunia”

Piala Dunia

Piala dunia sepak bola
Gaungnya begitu membahana
Di seluruh penjuru dunia
Di desa-desa dan kota-kota
Orang-orang membicarakannya
Tak terkecuali bangsa Indonesia
Demam bola, gila sepakbola
Satu impian dan pertanyaanku
Kapan kesebelasan Indonesia
Ikut berlaga di piala dunia
Dan jadi juara pertama

Afidah Nur Aslomah, Kls. 5, Tangerang (2010)










B.     Puisi anak “Kasih Bunda”

Kasih Bunda

Bunda ...
Kau yang telah membesarkanku
Dan membahagiakanku
Dengan penuh kasih sayang
Bunda ...
Dengan kutulis sebait puisi ini
Kusimpan kasihmu sampai nanti
Kuucapkan terima kasih kepadamu
Bunda ...
Setiap detik, menit, dan jam
Ku slalu ingat kepadamu
Apapun permintaanku selalu kau berikan
Bunda ...
Maafkanlah aku bila aku bersalah
Semoga Tuhan mengampuni dosaku
Dan memberikan keselamatan untukmu
Amin

Intan Wahyu Permatahati,Kls. 2, Sleman (2010):








C.    Puisi anak “Tanah Indonesia”

Tanah Indonesia

Begitu banyak keindahan
Hutan, gunung, dan lautan
Itulah alam indonesia
Surga di tanah khatulistiwa
Akan tetapi……
Banyak tangan jahil
Yang tak bertanggung jawab
Yang merusak keindahanmu
Hutan, gunung, dan lautan
Janganlah kau hilang
Tetaplah di tanah Indonesia
Menjaga indonesia
Hutan, gunung, dan lautan
Kaulah indonesiaku
Tanah kelahiranku
Tanah tercinta, oh Indonesia

Anggun Nurlatifah, SD.






3.      Drama Anak “PERSAHABATAN”

PERSAHABATAN
Suasana di dalam kelas V ribut. Ada yang berlari-lari saling berkejaran dan ada pula yang memukul-mukul meja. Ibu Guru pun masuk ke kelas. Ketua kelas mengkomandoi untuk mengucapkan salam.
Ketua Kelas    : Duduk siap! Memberi salam!
Semua                         : Assalamualaikum warohmatullahiwabarokatuh.
Ibu Guru         : Walaikum salam warohmatullahiwabarokatuh. Hari ini semua hadir?
Semua                         : Hadir Bu!
Ibu Guru         : Baiklah kalau begitu coba kalian kumpulkan tugas prakarya kalian!
Semua siswa mengumpulkan prakarya tetapi Krisna kebingungan mencari tugasnya yang disimpan di dalam tas. Krisna mengeluarkan semua isi yang ada di dalam tasnya dan mencarinya berulang-ulang. Ibu guru mendekati Krisna.
Ibu Guru         : Krisna, ada apa? Mana tugasmu?
Krisna              : A…a…a…anu Bu… euuum…. (Wajah Krisna Gugup)
Ibu Guru         : Ada apa Krisna?
Krisna              : I…i…ini Bu tugaas saya hilang. (Krisna menundukkan wajah)
Ibu Guru         : Hilang???? Bagaimana bisa hilang? Hilang atau kamu tidak mengerjakannya??
Krisna              : Saya mengerjakan Bu.
Rendy                         : Ah…!!!! Bohong Bu!!! Dia kan malas, paling juga dia tidak mengerjakan tugas Bu!

Dinda              : Husssttt…!!! Rendy jangan menuduh seperti itu.
Krisna              : (Diam menunduk) awas yah nanti saya balas! (gerutu Krisna)
Ibu Guru         : Ya sudah Krisna besok kumpulkan tugas kamu.
Krisna              : Iya Bu!!
Tak terasa waktu berputar, dan Teng… teng… teng… bel tanda istirahat berbunyi. Semua anak berlari berhamburan keluar kelas.  Rendy, Dinda, dan Rozy sedang berjalan sambil mengobrol asyik. Dari arah berlawanan Krisna datang menghampiri mereka bertiga. Krisna sengaja menanbrak Rozy.
Rozy                : Aduh!! (Rozy terjatuh)
Krisna              : (Senyum sinis)
Rendy                         : Heh!! Krisna kamu sengaja yah menabrak Rozy???
Krisna              : Enggak! Ngapain juga saya nabrak pencuri kaya dia.(tangan Krisna menunjuk ke arah Rozy)
Dinda              : Apa maksud kamu Krisna?? Kamu menuduh Rozy mencuri tugas kamu?
Krisna              : Menurut kalian? Kalian pikir dia anak baik??
Rendy                         : (Tangan kiri Rendy memegang kerah baju Krisna dan tangan kanan Rendy mengepal siap untuk memukul Krisna dengan mata melotot (marah)).
Krisna              : Maling dibela!!!
Rendy                         : (memukul wajah Krisna dan Krisna terjatuh)
Rendy dan Krisna berkelahi saling membalas pukulan. Rozy dan Dinda berusaha melerai mereka. Ketika itu juga Ibu Guru datang menghampiri mereka.
Guru                : Stop!! Stop!! Stop!!! Ada apa ini??? Apa pantas pelajar berkelahi seperti ini??
Rendy                         : Maaf Bu! Saya hanya merasa tidak terima kalau Krisna menuduh Rozy mencuri tugasnya.
Rozy                : (Diam menunduk dengan wajah panik)
Krisna              : Saya tidak menuduh Bu, tetapi saya mengenali tugas prakarya yang saya kerjakan Bu. Dan prakarya itu seperti yang dikumpulkan oleh Rozy.
Ibu Guru         : Rozy??? Apa benar itu??
Rozy                : (Gugup sambil menunduk) Be…be…benar Bu! Maaf Bu saya tidak mengerjakan tugas karena sudah tiga hari Ibu saya sakit jadi saya tidak sempat mengerjakan tugas dan karena saya takut dimarahi karena tidak mengerjakan tugas jadi saya mengambil tugas Krisna saat kelas kosong Bu!
Dinda dan Rendy  terkejut.
Ibu Guru         : Ya sudah sekarang Rozy meminta maaf kepada Krisna dan Rozy harus berjanji tidak akan pernah mencuri lagi karena mencuri adalah perbuatan dosa.
Rozy                : Iya Bu!!
Ibu Guru         : Dan… untuk krisna dan Rendy kalian sekarang saling memaafkan dan ingat jangan pernah mengulangi lagi perkelahian seperti ini. Kalian mengerti???
Rendy dan Krisna : Iya Bu.
Rendy             : Krisna maafkan saya yah?
Rozy                : Maafkan saya juga Kris sudah mencuri tugas kamu.
Krisna              : Iyah sama-sama (Krisna memeluk Rendy dan Rozy)
Dinda              : Nah gitu dong! Kita harus saling memaafkan karena kita adalah sahabat untuk sekarang dan selamanya.
Dinda, Rozy, Rendy, Krisna : Selamanya kita sahabat!!!
Mereka berempat saling bergandengan tangan dan menyanyikan lagu
“Dulu kita sahabat. Dengan begitu hangat mengalahkan sinar mentari. Dulu kita sahabat. Berteman bagai ulat. Berharap jadi kupu-kupu. Kini kita berjalan berjauh-jauhan. Kau jauhi diriku karena sesuatu. Mungkin ku terlalu bertindak kejauhan. Namun itu karena ku sayang Persahabatan bagai kepompong. Mengubah ulat menjadi kupu-kupu. Persahabatan bagai kepompong. Hal yang tak mudah berubah jadi indah. Persahabatan bagai kepompong. Maklumi teman hadapi perbedaan. Persahabatan bagai kepompong.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Firasat - Dewi Lestari

Peluk - Dewi Lestari