JINGGA

Jingga
Oleh Ulfatun Apriliyanti

Malam memuram. Membisu kata-kata yang tidak dapat diungkapkan. Sesekali Jingga menatap foto yang terpajang diatas meja kamarnya. Seperti ada yang merembes tiap kali menatap foto itu. Hatinya serasa disobek-sobek sebilah pisau yang tajam  menjadi serpihan-serpihan yang tak beraturan. Ada rasa rindu yang membelenggu dirinya. Ia seperti terpatri  pada hati dan jiwanya. Seperti samudera yang terombang-ambing oleh ombak. Hatinya gusar tak tenang.  Air matanya menetes perlahan. Kenangannya memenuhi pikirannya malam itu. Kenangannya kini hanya dapat ia teguk. Imajinasinya bermimpi ingin rasanya kembali ke masa itu tetapi tidak mungkin. Kenangan tetaplah kenangan. Dimensi waktu selalu berputar ke depan.

“Ting tong Ting tong Ting tong” bunyi handphone memecahkan lamunan panjangnya dengan segera Jingga mengambil handphone yang masih berada di dalam tasnya.
                                                           
From: Desta
Hai Jingga, apa kabar? Lama sekali tidak berjumpa. Kapan pulang ke bandung?

Your regards,
Desta.

Hampir tiga bulan Jingga belum pulang menuju kota dimana ia menghabiskan masa sekolahnya. Kegiatannya yang begitu banyak selalu saja menahannya untuk pulang. Rasa rindu pada keluarga, teman-temannya dan seseorang yang spesial  semakin menggelora di relung hatinya.

Reply: Desta
Hai juga Desta, baik-baik aja Des. Kamu gimana kabar? Liburan semester aku pulang Desta.
Sambil menunggu balasan dari Desta, Jingga membuka leptopnya dan menyelesaikan beberapa tugas yang belum selesai. Minggu ini Jingga memang sedang dibanjiri tugas. Ia harus mengurangi waktu tidurnya agar tugas dapat diselesaikan dan tepat  pukul 23.15 semua tugas telah ia selesaikan. Ingin rasanya merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Namun matanya masih enggan menjauh dari leptopnya. Hatinya pun demikian ada rasa kuat yang mendoronya untuk tetap tinggal di depan leptop. Akhirnya ia memutuskan untuk berselancar  di dunia maya. Dengan jarinya yang lincah Jingga membuka akun twitternya. Di  Timeline Twitter mucul sosok yang ia kenal, bahkan sangat ia kenal. Di dalam foto itu sosoknya tidak sendirian. Sosok itu sedang bersama seseorang yang juga Jingga kenal. Betapa terkejut dan kagetnya  Jingga. Lama menatap foto itu Jingga memutuskan untuk membuka akun twitternya Erlangga Rahardian.
“Aku masih menantimu disini, disudut pojok ruangan bersama sepi. Menunggumu menjemputku kembali.”
 ujarnya dalam hati.
Sudah setahun Jingga tidak mengetahui kabarnya,tepatnya setelah lulus SMA. Bagi Jingga, setahun adalah waktu yang panjang. Selama setahun itu Langga terus memenuhi pikirannya, menggerogoti ruang hatinya hingga Jingga susah untuk membuka hati lagi pada yang lain. Sosok Langga sangat berarti dalam hidupnya. Langga yang mampu memahami dirinya. Langga yang pernah mengisi hari-harinya hingga spasi antara mereka begitu lebar tetap saja Jingga memilih menyimpan dan menjaga perasaannya hanya untuk Langga. Sebuah tekad dan keyakinan yang besar bahwa hatinya adalah untuk Langga. Untuk berpaling darinya bagaikan kepala yang tidak bisa menengok kemana-mana namun Jingga terlalu angkuh untuk mengungkapkannya. Sorotan matanya begitu tajam membaca  setiap deretan huruf yang ada di akun twitter Langga. Ia menelusuri profilnya dalam-dalam hinga tertidur.
***
Alunan angin menggesek dedaunan yang berjatuhan. Tetesan embun membasahi tanah yang rindu hujan. Jingga bangkit dari tempat tidurnya berdiri di dekat jendela sambil menatap kicauan burung yang memekikan telinga bagi siapa saja yang sudah bangun dari tidurnya. Ia memerhatikan sekitar, menatap awan yang sedikit kelabu, berharap sayup-sayup angin dan udara yang terhempas mengabarkan rasa rindunya untuk Langga. Setiap kali ia bangun dari tidurnya entah mengapa rasa ingin pulang ke Bandung semakin membumbung dalam jiwanya. Hari ini adalah hari sabtu, perkuliahan libur. Jingga enggan untuk mandi, tapi hari ini ia sudah merencanakan akan  pergi ke toko buku. Kehidupan yang jauh dari keluarga membuat Jingga harus mandiri. Awalnya memang tidak ada rencana untuk kuliah di luar kota, tetapi mimpi dan cita-cita mengharuskannya untuk pergi ke luar kota.
 “Setiap orang punya mimpi dan setiap orang berhak atas mewujudkan mimpi-mimpi itu” batinnya dalam hati. Untung saja Jingga dapat menikmati kehidupan barunya di Jogjakarta dengan kuliah di Universitas Gadjah Mada demi memuaskan mereka. Ya mereka. Orang tuanya, keluarganya, guru-gurunya dan teman-temannya. Dari  SMA nilai mata pengetahuan ipa dan eksak Jingga diatas rata-rata, ayahnya semakin berambisius untuk menyekolahkannya di Fakultas Kedokteran walaupun sebenarnya ia lebih mencintai seni. Dengan hati yang ikhlas Jingga menuruti kemauan ayahnya dari mulai registrasi hingga menjelang masuk kuliah ayahnya begitu antusias agar Jingga dapat lolos di Fakultas Kedokteran. Betapa bahagianya hati sang ayah ketika Jingga lolos dan diterima sebagai mahasiswi Fakultas Kedokteran melalui  jalur SPMB. Kehidupan barunya telah menghadirkan celah antara jingga dengan masa SMAnya entah itu teman-temannya atau orang yang spesial yang masih tinggal di dalam hatinya. Semuanya kini telah menjadi kenangan. Ya kenangan, suatu hal yang hanya dapat diteguk dan dibayangkan.
“Tumben kamu jam segini udah mandi, mau kemana?” sapa teman sebelah kamarnya yang sudah menyerobot masuk kamarnya.
“Aku mau pergi Cik”
“Pergi kemana? Ikutang dong. Bosen nih hari libur di kamar aja”
“Ke toko buku. Yaudah, sanah gih mandi dulu”
“Oke”
Cika dan Jingga memang belum lama kenal. Nasib mereka sama-sama jauh dari orangtua. Tak jarang jika hari libur atau akhir pekan Jingga sering bertravelling bersama teman-teman satu kosnya, selain untuk mengakrabkan ia memang hobi bertravelling. Hobi bertravelling sudah melekat dalam dirinya semenjak awal SMA. Ia mengikuti kegiatan ekstra kurikuler pencinta alam. Setiap kali akan mendaki gunung Jingga harus mati-matian meminta izin pada ayahnya. Jingga tidak akan berangkat jika ayah dan ibunya tidak mengizinkannya. Di dalam hatinya ia terus memegang  teguh bahwa pengalaman adalalah suatu hal yang berharga. Pengalaman mengajarkannya untuk lebih baik. Pengalaman di dapatkan dari alam, dimana alam adalah ilmu yang diciptakan oleh tangan-tangan Tuhan yang tak terhingga jumlahnya. Alam tidak pernah selicik manusia hingga memiliki keinginan untuk berbohong. Alam adalah karya yang murni tidak pamrih, tidak minta bayaran bahkan tidak sedikitpun meminta ucapan terima kasih.
***
Jingga dan Cika melangkah turun dari angkutan  kota. Ia membenarkan tas ransel kecilnya yang tergantung di bahunya. Setiap akhir pekan toko buku selalu ramai. Mereka berjalan menaiki lift langsung menuju ke lantai dua tempat buku-buku. Banyak buku yang Jingga cari. Mata kuliah yang aneh-aneh karena bahasanya kebanyakan menggunakan nama latin mengharuskan Jingga untuk mempunyai bukunya. Selama menempuh kuliah, kredit yang harus diambil kurang lebih 200 SKS untuk menjadi dokter. Terdiri dari 160 SKS untuk memperoleh title “sarjana kedokteran” di belakang namanya dan 40 SKS untuk mendapat gelar “dokter” di depan namanya. Butuh waktu sekitar 4,5 tahun bahkan lebih untuk menyelesaikan kuliahnya. Cika memilih rak buku yang isinya hanya deretan novel, selain ia suka membaca novel Cika juga berlatar belakang dari mahasiswi Fakultas Bahasa. Jingga berjalan menuju rak buku Ensiklopedia untuk mencari buku Patologi anatomi kedokteran, dan anatomi histologi. Dari belakang suara seorang pria memanggil namanya dengan patah-patah.
“Jing...ga?” Pria itu memanggilnya dengan rasa ragu. Mereka lalu bertatapan, Jingga terdiam, tubuhnya seolah-olah membeku. Tangan dan kakinya terpaku, bibirnya terkunci. Hatinya berdetak lebih kencang dari biasanya.
“La..ng..ga?” Jingga berusaha untuk mengucapkan namanya.
“Iya, apa kabar?”Ucap langga dengan senyum yang merekah dari bibirnya.
“Baik-baik aja Lang, kamu?” Detak jantungnya tak henti-hentinya melaju kencang. Pipinya merona. Rindu yang menggumpal meleleh perlahan. Senyum manisnya terus mengambang.
“baik-baik juga.”
“Ka. . .mu dimana sekarang? Maksudnya sekolah dimana sekarang?”
“mimpi yang membawaku kesini lang”
“maksudnya di UGM?”
“iya Lang”
 Ada rasa canggung ketika mereka berbicara. Sejenak menjadi hening. Mereka sama-sama diam. Jingga mencoba mencairkan suasana namun tenggorakannya terasa  berat untuk mengeluarkan setiap hurufnya. Cika datang dan menghampiri mereka. Suara Cika memecah keheningan itu.
“Jingga gimana udah dapet bukunya”?
“belum Cik masih nyari”
“Jingga aku pamit dulu ya, ini nomerku simpan baik-baik ya. See you” ucap Langga dengan suara yang terburu-buru. Jingga terus menatapnya hingga Langga hilang dari pandangannya. Jingga tiba-tiba seperti orang yang linglung. Pandangannya kosong. Untuk melihat pemandangan disekelilingnya terasa kabur. Pemandangannya itu berganti ke ingatan setahun silam. Ia melamun. Teringat saat pagi itu Jingga sedang duduk di bangku taman sambil mengerjakan tugas lalu Ezar menghampirinya sambil membawa bunga dan coklat. Langga melihatnya dari kejauhan. Awan seperti terbelah menjadi dua oleh pedang yang panjang lalu membuat gumpalan-gumpalan awan itu berjatuhan. Langga tak kuasa melihat mereka. Dengan kepingan hati yang hancur Langga memasuki ruang kelasnya lalu mengambil handphone.
“Terimakasih untuk semua yang sudah pernah kau berikan. Pisau yang sudah kau tusuk terasa sangat dalam menyakitkan hingga aku tak mampu mencambutnya kembali. Kalaupun aku cabut goresan-goresan luka ini masih sakit ku rasakan. Biarkan aku berjalan sendiri bersama sepi. Jangan temui aku lagi. Maaf. Langga.
Waktu telah berlalu, semua siswa SMA Harapan Nusantara menyambut kelulusan dan perpisahannya dengan suka cita. Namun tidak dengan Jingga. Walaupun dia dinobatkan sebagai peraih peringkat ke tiga di sekolahnya, ia masih merasa mengganjal di hatinya. Banyak sekali yang ingin diungkapkan pada Langga. Namun nyalinya ciut untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi waktu itu. Langga juga sudah terlanjur jauh darinya. Jingga hanya bisa pasrah dan berharap Langga mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada waktu itu.
***
Pagi-pagi Jingga tengah bersiap-siap untuk datang ke kampus. Hari ini ia akan praktek dan bertemu dengan dosen yang terkenal killer di kampusnya. Ia harus berangkat lebih awal untuk tidak telat yang kedua kalinya. Baru saja menginjak kaki di depan pintu laboratorium Fahmi sudah berada di depannya dan menyapa. Jingga menyapa balik dan menyerobot masuk melewati pinggir tubuh Fahmi. Ada perasaan ganjil yang membungkus tubuh Jingga. Ia sebenarnya mengetahui bahwa Fahmi sudah menaruh hati padanya. Ia memilih cuek dan tidak memerdulikannya. Berbeda dengan Fahmi, ia terus memancing hati Jingga hingga agar jatuh hati padanya. Fahmi sering mengantarkannya pulang, membelikannya obat ketika sakit, membantunya jika ia sedang kesusahan. Fahmi berusaha keras untuk mendapatkan hati Jingga. Namun sampai saat ini Jingga tetap mengaggapnya sebagai sahabat. Terkadang Jingga takut akan perhatian yang Fahmi berikan akan merobohkan hati Jingga. Memang selama satu tahun Jingga dan Langga belum pernah bertemu  kembali namun hati kecilnya masih yakin bahwa Langga masih mecintainya. Hanya waktu yang belum mempertemukan dan mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi. Jingga masih setia menyimpan perasaan-perasaanya untuk Langga walau Fahmi terus mencoba memasuki lorong-lorong hati Jingga. Fahmi dan Jingga bertemu semenjak mereka sama-sama masuk di kampus UGM dan mejadi mahasiswa baru di Fakultas Kedokteran. Pertama kali bertemu tatapan Fahmi kepada Jingga memang berbeda dari yang lain. Ada rasa ingin menyelami hati  Jingga lebih dalam. Jingga juga sudah mengetahui dari temannya bahwa Fahmi tengah mengincar dirinya. Selain perawakannya yang tinggi dan kulitnya yang kuning langsat, cerdas dan aktif di organisasi dan sikapnya yang easy going membuat Jingga disukai banyak orang. Dulu, jika menjelang mahrib ibunya sering keluar rumah hanya untuk melihat terbenam matahari dan langit yang berwarna jingga sehingga ibunyapun menamainya anaknya dengan Jingga. Jingga adalah warna yang menggabungkan energi warna merah dan keceriaan warna kuning. Jingga berhubungan dengan keceriaan, warna matahari dan daerah-daerah tropis. Dimata manusia Jingga adalah warna yang panas sehingga memberi sensasi kehangatan tertentu. Namun warna Jingga tidak seagresif warna merah. Sebagai salah satu warna yang sitrus Jingga dihubungkan dengan makanan sehat dan meningkatkan selera. Jingga juga merupakan simbol kekuatan dan ketegaran. Begitu katanya, setiap kali ada orang yang ingin mengetahui filofis namanya yang unik.
***
Pukul lima sore Jingga sudah berada di dalam kamar kosnya. Ia melemparkan tubuhnya ke kasur. Hari ini sangat melelahkan, ujarnya dalam hati. Baru beberapa menit merebahkan tubuhnya handphonenya berbunyi dengan segera Jingga mengambilnya dan tertulis new read message dari nomer yang belum ada dikontak handphonenya.
“Selamat sore. Lama tak berjumpa dan bersua denganmu. Kesalahpahaman yang terukir sudah aku ketahui yang sebenarnya. Semua tak seperti yang aku kira. Maafkan aku yang dulu telah salah menilaimu. Jika nanti malam ada waktu, temui aku di Starbucks coffe pukul 19.00. Kutunggu kau disana.
Langga.

Ia tak kuasa membendung air matanya yang sudah ingin sekali berjatuhan. Sore itu Jingga mempersilahkan air matanya melewati lembah pipi membasahi seragam kuliahnya. SMS itu tertera jelas dari Erlangga Rahardian atau Langga. Orang yang masih ia cintai.  Rongga bola dadanya bernafas bebas, bahkan sangat bebas dari biasanya. Kesalahpahaman yang terjadi setahun silam terungkap sudah. Entah dari siapa yang mengatakannya Jingga sudah sangat lega. Seandainya dulu ia mampu menjelaskan bahwa bunga dan coklat yang dibawa oleh Ezar itu adalah bukan untuknya, melainkan untuk sahabat Jingga sendiri yang dititipkan melalui Jingga. Namun sayang, waktu itu Langga sudah tak ingin lagi mendengar penjelasan Jingga.
***
Malam itu bintang bertaburan, rembulan lebih terang dari biasanya. Suasana Starbucks coffe tidak begitu rame tidak begitu sepi. Langga memilih starbucks coffe sebagai tempat pertemuannya karena disitu terdapat kolam dan dipinggiran kolam terdapat meja kursi yang sudah di desain menarik dengan penerangannya menggunakan lampion yang beraneka warna yang menurutnya menunjukkan simbol yang romantis. Jingga memakain gaun berwarna hitam dengan balutan sedikit pernak-pernik yang dipadukan dengan warna oranye dan putih yang menghiasi pergelangan tangan dan rambutnya.
From: Langga
“Tunggulah aku di meja nomor tujuh, duduklah disana. Lima menit lagi aku akan datang menemuimu”.

 Betapa terkagumnya  hati Jingga di meja tersebut lilin-lilin cantik sudah mengitari mejanya dan membentuk love. Lima menit menunggu terdengarlah suara.
“Selamat malam Jingga Prahasta Febrina”
“Selamat malam juga Erlangga Rahardian”
“Bagaimana kabarmu Jingga?”
“Baik-baik Langga”
Pembicaraan mereka mengalir begitu saja.  Tak ada rasa canggung seperti saat bertemu di toko buku. Langga berbicara mengenai siapa yang telah memberitahu kesalahpahaman yang telah terukir selama satu tahun itu. Kebenaran memang selalu di pojokkan. Jingga antusias mendengarnya dan melemparkan senyum tiap kali Langga berhenti berbicara. Senyum Jingga begitu indah merekah. Rona pipinya berubah merah tiap kali senyumnya mengambang di bibir.  Membuat Langga ingin menatapnya lama-lama. Malam itu Langga berubah seperti sastrawan, ia berbicara dengan kata-kata yang penuh dengan makna.
“Setelah setahun tak berjumpa, senang rasanya bersua kembali. Kupu-kupu itu telah terbang terlalu jauh hingga aku hampir menyerah untuk mendapatkannya lagi.  Rinduku pada kupu-kupu kini mencair dengan perlahan. Selama setahun itu aku menunggu kupu-kupu hinggap di daun yang kering. Kau tahu siapa kupu-kupu itu? Kupu-kupu itu kini hadir menemaniku malam ini. Aku ingin terbang bebas bersama kupu-kupuku itu lagi”
“Di dalam tubuh ada ruang kecil yang lunak dan mungil  dan hanya bisa dipahami dengan hati nuraini, disitu ada teras untuk tamu. Aku persilahkan padamu lagi untuk memasuki terasku”
Matanya tak mampu membendung lagi gumpalan air yang segera mengguyur pipinya. Tumpah sudah  air matanya mengalir menganak  menuruni pipi. Langit yang kelam berubah gemilang. Bintang-bintang bertaburan. Lilin yang menyala terang menjadi saksi bisu pertemuan mereka kembali.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Firasat - Dewi Lestari

Peluk - Dewi Lestari

Analisis Sastra Anak