Ekspresi Tulis Sastra
Kayu Jati
Temboknya
melapuk, bahkan sudah ada yang retak dibagian sana-sini. Atapnya hanya seng
yang penuh dengan karat. Alasnya hanya plester
yang kian hari kian pecah. Untuk makan susah, apalagi untuk merenovasi rumah. Ramedi yang belum punya
pekerjaan tiap hari hanya merenung memikirkan pintu kayu jati yang kini sudah
dimiliki oleh saudagar terkaya di desanya. Angin malam sungguh menyiksa
keluarga Ramedi. Pintu dengan tutup kain yang seharusnya dipakai untuk
menggendong bayi digunakan oleh Ramedi untuk menutup pintu rumah bagian tengah.
Sesekali angin malam lewat, tubuh anak-anak Ramedi menggigil kedinginan karena
tidak ada pintu kuat yang mampu menghindari hembusan angin.
Ramedi menyesal sekali telah menjual pintu keramat itu. Pintu peninggalan orang tuanya. Sebelum orang tuanya meninggal ayah dan ibunya telah berpesan agar pintu dari kayu jati itu jangan sampai dijual, jika dijual akan mendatangkan musibah bagi keluarga yang menjualnya. Pintu itu adalah peninggalan kakek Ramedi. Dulu, kakek Ramedi mempunyai kebun yang isinya ditanami pohon jati. Dari beberapa pohon yang ditanam hanya ada satu pohon yang masih tumbuh hingga usianya sama dengan kakek Ramedi ketika meninggal. Karena kecintaannya terhadap pohon jati tersebut sampai-sampai diatas pemakamannya kakek Ramedi ditaruhnya kayu jati yang sudah membentuk pintu dan terukir rapi. Setelah 40 hari meninggalnya kakek Ramedi ayah Ramedi kemudian mengambil pintu itu kembali. Anehnya, ukirannya berubah dan menjadi sangat indah. Semenjak memiliki pintu tersebut ayah Ramedi menjadi sangat beruntung. Tanaman padinya cepat tumbuh, hingga lumbung padi miliknya sudah tidak muat lagi untuk menampung beras-beras yang siap akan dijual. Ayah Ramedi benar-benar hidup makmur.
Ramedi menyesal sekali telah menjual pintu keramat itu. Pintu peninggalan orang tuanya. Sebelum orang tuanya meninggal ayah dan ibunya telah berpesan agar pintu dari kayu jati itu jangan sampai dijual, jika dijual akan mendatangkan musibah bagi keluarga yang menjualnya. Pintu itu adalah peninggalan kakek Ramedi. Dulu, kakek Ramedi mempunyai kebun yang isinya ditanami pohon jati. Dari beberapa pohon yang ditanam hanya ada satu pohon yang masih tumbuh hingga usianya sama dengan kakek Ramedi ketika meninggal. Karena kecintaannya terhadap pohon jati tersebut sampai-sampai diatas pemakamannya kakek Ramedi ditaruhnya kayu jati yang sudah membentuk pintu dan terukir rapi. Setelah 40 hari meninggalnya kakek Ramedi ayah Ramedi kemudian mengambil pintu itu kembali. Anehnya, ukirannya berubah dan menjadi sangat indah. Semenjak memiliki pintu tersebut ayah Ramedi menjadi sangat beruntung. Tanaman padinya cepat tumbuh, hingga lumbung padi miliknya sudah tidak muat lagi untuk menampung beras-beras yang siap akan dijual. Ayah Ramedi benar-benar hidup makmur.
Semenjak kayu jati itu dijual kini
Ramedi hidup serba kekurangan, bahkan untuk menyekolahkan anaknya pun tak
mampu. Hutang sana hutang sini. Hampir seluruh perabotan rumahnya dijual untuk
menghidupi keluarganya. Makan pun seadanya, pernah keluarga Ramedi dalam satu
hari hanya makan singkong bakar. Tetangganya-tetangganya banyak yang prihatin
dengan keadaan Ramedi. Setiap satu minggu sekali Nira, istri Ramedi dikirimi susu untuk anaknya yang masih
balita berserta kebutuhan pangannya oleh salah satu kelompok darma wanita di
desanya. Ramedi mempunyai tiga anak, dua anak laki-laki bernama Remi yang masih
umur 1 tahun, Randi yang berumur 7 tahun dan yang paling besar bernama Peni
yang hampir menginjak 15 tahun. Setiap hari Peni menjajakan gorengan milik
tetanggnya. Hasilnya tak seberapa hanya cukup untuk makan. Randi adalah
satu-satunya anak Ramedi yang masih sekolah dan duduk di bangku kelas dua SD.
Ia sekolah karena mendapat bantuan dari sekolahnya.
Angin bertiup sayu. Bintang tak
muncul. Bulan hanya menampakkan setengahnya. Ramedi tidur dilantai beralaskan
kain seadanya. Di sepertiga malam ia bermimpi bertemu dengan kakeknya, kakeknya
menasehati agar bagaimananapun caranya pintu itu dapat kembali lagi. Jika tidak
kembali keluarga Ramedi hingga anak-anaknya nanti akan hidup miskin. Ramedi
terbangun, memikirkan apa yang telah terjadi di dalam mimpinya. Keesokan
harinya, Ramedi menceritakan mimpinya kepada istrinya.
Mereka sepakat untuk meminjam uang
kepada saudara Ramedi yang berada di luar Jawa. Ramedi sudah berniat, tekadnya
sudah bulat untuk mengambil kembali pintu itu walau jumlah nominalnya banyak.
Selama satu minggu Ramedi berada di Kalimantan, kondisi perekonomian
keluarganya semakin lumpuh. Anak terakhirnya sakit karena kekurangan gizi.
Matanya merah dan berair, perutnya buncing. Tak sia-sia Ramedi pergi ke
Kalimantan, saudaranya menyambutnya dengan baik bahkan ia dikasih uang lebih
dari yang Ramedi minta. Tubuh kekar dengan kulit sawo matang kembali ke kampung halamannnya di desa Ciawi.
Anak istrinya menyambut bangga kedatangan Ramedi. Paginya, Ramedi bersama
keluarganya datang menuju rumah Pak Ayim untuk mengambil pintu keramat itu.
Dengan berbagai alasan dan usaha akhirnya pintu itu kembali di tangan Ramedi.
Dengan rasa bangga keluarga Ramedi mengambil pintu itu dan disimpannya di dalam
kamar Ramedi. Setiap seminggu sekali baik Ramedi maupun istri dan anaknya
selalu membersihkan pintu itu. Setengah bulan setelah pintu itu kembali kini
Ramedi sudah mendapat pekerjaan dan anak-anaknya pun dapat bersekolah. Kini
keluarga Ramedi bisa hidup bahagia dan hutang-hutangnya berangsur-angsur lunas.
Komentar
Posting Komentar